Esra Manurung; Membangun Pondasi Revolusi Mental Dari Dalam Keluarga

suaratapian.com-Terkadang jalan hidup berkeluget-keluget mesti dilalui, sebelum tiba pada pelabuhan hidup yang lebih baik. Situasi sulit kerap Tuhan izinkan mengelayuti hidup anak-anakNya. Miskin dan melarat itulah gambaran kisah kehidupan Esra boru Manurung, seorang leader di perusahaan asuransi internasional Allianz diawalnya. Sejak masa kanak-kanak hingga menjelang akil balig penuhkisah yang menyayat. Belum lekang dari ingatan perempuan kelahiran Jakarta, keluarganya sekitar 30-an tahun lalu, tinggal di kawasan kumuh Cilincing yang saban hari dilalui truk-truk kontainer besar, di tambah sumpeknya rumah penduduk dengan gang-gang sempit.

Tahun 1992 umurnya baru 17 tahun, anak pertama dari tujuh bersaudara ini baru kuliah semester satu di Univeristas Kristen Indonesia di bilangan Salemba, Jakarta Pusat. Hikayat kepiluan yang tak kepalang, saat hendak ibunya melahirkan anak kembar. Bayi dalam kandung ibunya ada masalah,  naas tak bisa tertolong membawa ibunya pendarahan yang tak berhenti. Rencana Tuhan lain. Oleh pendarahan itu ibunya menghembuskan nafas terakhir di rumah sakit. “Waktu ibu dalam pendarahan, saya memanggil seluruh adik-adiknya untuk berdoa agar ibu sembuh. Tetapi jawaban doa kami, ibu bukannya mendapat kesembuhan, malah meninggal,” kisahnya mengenang perihnya hidup saat itu.

Di hatinya ada rasa kecewa yang amat sangat pada Tuhan. Namun yang paling memiriskan hatinya, kedua adiknya, kedua bayi yang baru lahir ternyata prematur. Keduanya mesti diinkubator untuk mendapat penghangatan. Sebagai anak pertama, Esra harus mau merawat keenam adik-adiknya, empat masih kecil-kecil dan dua di inkubator. Sepeninggalan ibu mereka, ayahnya ternyata tak bertanggung jawab. Ayah lari dari tanggung jawab sebagai seorang ayah, malah meninggalkan mereka, bahkan, menikah lagi dengan perempuan seumurnya.

Dua tahun Esra dan adik-adiknya hidup terlunta-lunta. Walau ayahnya masih ada, tetapi mereka hidup seperti anak yatim-piatu. Tumbuh secara alamiah, tanpa gizi dan kasih sayang bimbingan orangtua. Sementara untuk mensiasati hidup, dia dan adik-adiknya harus rela hidup mengais-gais sampah. Bahkan terkadang kelaparan. Tak jarang merelakan diri menjadi pembatu di rumah orang. Tragisnya, nasib kedua adiknya yang masih di inkubator, satu meninggal, dan satu lagi dibawah orang ke Sibolga.

Bersama suami saat mendampingi anaknya saat wisuda

Sebenarnya, jauh sebelumnya sejak kecil Esra sudah marah pada Tuhan melihat kenyataan hidup yang dialaminya. Ada pergolakan dalam batinnya. Di pikirannya Tuhan kejam. Kok Tuhan tega memberi hidup yang sangat sulit pada diri keluarganya, ayahnya seorang sopir angkot. Sejumlah pertanyaan mengelayut terus-menerus hadir di benaknya. Mengapa saya hidup dalam keluarga yang miskin? Mengapa ayahnya dan ibunya tak berpendidikan?  Dan yang paling membuat dia marah adalah dia punya mimpi besar. Tetapi, oleh kondisi kemiskinan keluarga, dalam hatinya, cita-citanya tak mungkin tergapai. Cita-citanya hanya mentas dalam agan-agan.  Cita-citanya ingin menjadi pembicara terkenal. Belum lagi keluhannya terhadap fisiknya, kondisi tubuhnya yang korengan. “Banyak bekas-bekas luka, dan membuat saya minder. Di sekujur badan ada borok, kudis. Pokoknya korengan. Saya sering diejek teman-teman dan itu membuat saya marah,” kenangnya.

Hojot Marluga

Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

thirteen − thirteen =