Esra Manurung; Membangun Pondasi Revolusi Mental Dari Dalam Keluarga
Bermetamorfosa
Melihat kenyataan hidup yang amat memilukan itu. Esra ingin menjalani cara pintas, mengakhiri derita. Sebagai gadis belia, yang masih belum dewasa, merasa tak sanggup menanggung beratnya tanggunggung jawab itu, dia terus merasakan akar pahit. Satu waktu, dia berencana ingin bunuh diri. Setelah kehidupan yang mengelamkan itu dua tahun berlalu, ada kabar bahwa bapaknya yang telah meninggalkan mereka telah menikah dan hendak kembali dengan membawa keluarga barunya. Dalam hati yang gundah, dia membangkang, menyanggahi Tuhan, dia “menantang” Tuhan. Mengapa begitu perih penderitaan yang diberikan kepada dirinya? Dia menangis menjerit-jerit pada Tuhan sembari meminta jawaban dariNya atas kesusahan hidup yang dialaminya. Dia ingin menerima jawaban dari Tuhan sendiri. “Tuhan mana kasihMU? Kalau Engkau maha kasih kok Engkau beri hidup yang sulit.” Saat itu terjadi dialog batin antara dirinya dengan Tuhan menyebut Tuhan tak mengasihinya. Merasa tak ada jawaban Tuhan, seperti digerakkan sesuatu dia ingin mendapat jawabannya dari Alkitab. Dia teringat ada Alkitab milik almarhum ibunya. Lalu, Alkitab itu dibukanya, dibukanya terbagi dua. Seperti tebak-tebakkan. Dia langsung menunjukkan tangannya pada ayat firman Tuhan pada Mazmur tertulis: “Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun TUHAN menyambut aku” (Mazmur 27:10).
Kisah pengalaman pribadi ini membuat dia tersungkur, mensyukuri jalan Tuhan pada dirinya. Ayat itu meluluhkan hatinya, ternyata Tuhan sungguh mengasihnya. Gadis yang beranjak dewasa itu mulai memahami bahasa dari Tuhan. “Bukan rencana manusia, tetapi rencana Tuhan.” Sejak kejadian itu dia mengalami perubahan, bermetamorfosa. Menerima kenyataan yang ada dan mengampuni kelakuan ayahnya, menikah lagi dan menelantarkan dia dan adik-adiknya. “Sejak itulah saya merasakan perubahan dalam diri sendiri. Seperti ada paku yang tertancam menghujam dalam hati saya,” ujarnya. Sejak hari itu pula ada perubahan cara berpikirnya. Dia paham bahwa kesulitan itu baik untuk mengimunisasi mental.
Tentu tak otomatis ada perubahan hidup. Kesulitan tetap saja pekat di hidupnya. Hanya cahaya kebenaran Tuhan itu mulai tumbuh dalam dirinya. “Kita tentu mengalami perbedaan, kalau kita melihat dari penjelasan Alkitab. Orang yang telah lahir baru telah menerima hati yang baru. Jika kita percaya pada pertobatan bahwa Tuhan telah memberi hati yang baru. Orang yang telah lahir baru diberi perubahan cara berpikir. Melalui Roma 12:2, Tuhan menginginkan keserupaan kita bukan menjadi serupa dengan dunia. Tetapi menjadi serupa seperti Kristus (2 Korintus 3:18) menjadi serupa dengan gambarNya”.
Esra telah mendapatkan hati yang baru, lahir baru. Tetapi, kesulitan hidup masih membebatnya. Sadar bahwa dia harus mengembangkan sikap mental yang mau berubah, mau berproses dan diproses Tuhan. Apa artinya? Walau ayahnya pun pulang membawa istri dan anak perempuan yang baru. Kenyataan itu disingkapinya dengan hati yang lapang. Jalan hidup diterimannya sebagai kenyataan. Dasar ayahnya belum bertobat, sepulang ayahnya bahkan menyuruhnya untuk berhenti kuliah dengan alasan tak memiliki uang membiayanya kuliah. Di hati kecilnya ingin terus kuliah. Esra hanya bisa berdoa kepada Tuhan untuk meminta jalan keluar. “Saya pikir saya harus terus kuliah, bagaimana pun caranya. Sebab, bagaimana hidup bisa berubah kalau tak kuliah!”
Tetapi, ada saja cara Tuhan menolong, dia tetap bisa melanjutkan studinya, tanpa merepotkan ayahnya. Sepeninggalan ibunya kuliahnya sempat terseok. Di tahun pertama dia mendapat bantuan biaya kuliah dari orangtua temannya. Di tahun kedua mendapat bantuan dari gereja. Namun di tahun ketiga dia harus rela letih untuk menjadi guru private di beberapa tempat. Pulang kuliah, dia menjadi guru private. Tak jarang dia terlihat kelelahan, dan hanya di dalam bus untuk memulihkan tubuhnya yang amat letih. Lalu, di akhir menjelang kuliah dia juga dikejutkan tangan Tuhan yang luar biasa memberi jalan keluar bagi dirinya untuk bisa melanjutkan kuliah hingga sampai lulus.
Saat itu ada pewartaan di diding kampus mengumumkan lomba karya ilmiah, pelenyelenggaranya Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Juara satu akan diberi beasiswa, bebas biaya kuliah. Seperti distimulus Esra kemudian berhasrat untuk mengikuti lompa itu. Dia lalu ke toko buku Gramedia membaca buku yang berkaitan dengan tema yang dilombakan. “Saya tak punya uang untuk beli buku, maka ke toko buku Gramedia untuk baca buku gratis. Lalu, meminjam mesin ketik teman untuk mengetik tulisan. Puji Tuhan, saya memenangkan lomba karya ilmiah itu, juara satu.”
Itulah kenyataan di kehidupan, mukjizat datang pada orang yang tak pernah berhenti berusaha, tak pernah menyerah, selalu gigih untuk mencapai tujuannya. Kini dia sudah menjadi top leader di satu perusahaan asuransi terbesar di dunia. Tentu untuk sampai dilevelnya sekarang ini tentu digapainya dengan berkeluget-keluget dengan kesabaran dan kegigihan. Dan yang pasti dia bisa melewati seluruh rintangan yang ada. Hingga kemudian tiba pada pemikiran, baru tersingkapkan oleh cara berpikir mental miskin. “Mental miskinlah yang membuat kita selalu terpelosok pada kubangan kegagalan. Kalau mental kita kaya, kita bisa bersikap positif menyingkapi berbagai kesulitan yang kita alami.”
Menurutnya, ada hal yang membuat seseorang berada pada zona mental miskin atau mental block? Karena itu, perlu upaya diri untuk mengubah keadaan yang demikian, dengan melatih diri untuk menumbuhkan kesadaran, bahwa meskipun hampir segalanya butuh uang, tapi uang bukanlah segalanya. “Uang bukanlah segalanya dan uang tak selalu bisa menjadi solusi dari kesehatannya. Uang bukanlah segalanya, uang tak akan bisa digunakan untuk membeli hati orang-orang yang mereka sayangi agar mau kembali ke rumah.”
