Esra Manurung; Membangun Pondasi Revolusi Mental Dari Dalam Keluarga

Tak berhenti berjuang

Sesaknya jalan yang dilaluinya ternyata menghantar Esra tumbuh menjadi sosok perempuan yang tangguh, tak gampang putus asa. Dia tak pernah berhenti berjuang menggapai hidup yang lebih, bermakna. Dari pengalaman banyaknya asam garam kehidupan dikecapnya, membawanya pada filosofi, ibu dari segala keahlian adalah pengulangan, sedangkan ayahnya adalah latihan. Pesannya untuk orang-orang yang masih berjalan dalam kesunyian perjuangan, mau melatih dengan mengulang-ulang kebiasaan yang baik. “Jika ingin menikmati hasil dari usaha kita, terus berusaha dan mengulangi. Sudah pasti bisa berhasil. Gagal mulai lagi. Jatuh bangkit lagi. Gigih sampai berhasil.”

Esra kemudian terus membenahi diri, menemukan hasrat untuk berhasil, mental kaya, meninggalkan mental miskin. Yakin bahwa kehidupannya bisa jauh lebih baik asal bersikap antusias. Setiap hari dia mengotosugesti diri secara terus-menerus. “Saya bisa berhasil.” Ketika dia ditolak, dia melatih diri tak menyerah. Terus mengafirmasi dirinya agar siakpnya terus positif. Tak hanya satu atau dua kali saja, hal itu terus dilakukannya berulang-ulang. Selain itu, dia membaca buku-buku motivator hebat seperti; Napoleon Hill, Anthony Robbins, Jhon C Maxwell, Zig Ziglar, Robert Kiosaki.

Lalu, mengimajinasikan ide-ide yang samar menjadi hasil yang konkret. “Sebisa mungkin kita harus menghindari pikiran-pikiran negatif yang kemungkinan bisa bisa menghancurkan impian kita sendiri. Pikiran merupakan kekuatan terbesar yang dimiliki oleh manusia. Terkadang manusia lupa bahwa mereka sebenarnya mempunyai kekuatan luar biasa, jika mereka mau mengasah pikirannya.”

Hojot Marluga

Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

4 × three =