Mambere Namalum Hubani Inong: Memberi yang Menyembuhkan

Bagi Waldensius, ibunya adalah perempuan hebat. Bukan karena ia kuat secara fisik, tapi karena ia kuat dalam iman. Di tengah tantangan hidup, ia tetap tekun membaca Firman, berdoa, dan percaya bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan.

Efesus 6:2-3 menjadi pegangannya: “Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah.” Dan lihatlah, Tuhan menepati janji itu. Di usia 93 tahun, ibunya, Rosdiana masih sehat, masih ceria, masih menjadi tempat anak-anaknya pulang.

Dari ibu, ia mewarisi kelembutan, kesabaran, dan semangat pengabdian, itu membentuk dirinya: sigap sebagai dokter dan penatua, tapi berhati melayani.

Setiap kali datang menengok ibunda. Bukan untuk urusan dunia, tapi untuk mengisi ulang hati. Memeluk, mencium tangan, dan mendengar doa yang sama sejak ia kecil.

Ibu Rosdiana tidak pernah menuntut. Ia hanya berdoa, mendoakan agar anaknya menjadi terang, baik di ruang operasi, di mimbar gereja, maupun di tengah masyarakat.

Hidup ini penuh tantangan, kata Waldensius. Secara kejiwaan dan perasaan pasti ada. Tapi yang membuatnya tekun adalah mengenal Tuhan lebih dalam melalui Firman dan doa. Dan guru pertama untuk itu adalah ibunya. Sabtu, 22 Agustus 2026, keluarga besar mengucap syukur: “Mambere Namalum Hubani Ompung Rosdiana T. Boru Munthe” adalah bukti anugerah. Bahwa Tuhan masih memberi waktu untuk melihat cucu, cicit, dan melihat anaknya menjadi berkat. Karena dari rahim dan didikanmulah lahir seorang anak yang memilih taat, berbakti, dan memuliakan Tuhan sepanjang hidupnya. (Hojot Marluga)

Hojot Marluga

Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

fourteen + three =