TUTUP SELAMANYA TPL DAN PERUSAHAAN LAIN PERUSAK KAWASAN DANAU TOBA
Video dan foto lokasi kejadian yang diunggah netizen dan wartawan di media sosial dan media massa telah menyadarkan mereka seketika. Mereka lantas bereaksi keras menyoal kaum perusak alam serta pemerintah yang mereka anggap rakus dan korup sehingga membiarkan saja deforestasi terjadi. Sesungguhnya, Yayasan Pecinta Danau Toba (YPDT) sudah tak kurang dari 30 tahun bersuara nyaring menyoal perusakan alam terutama yang terjadi di kawasan Danau Toba, Sumatra Utara. Tapi, seperti “suara orang yang berseru-seru di padang gurun”, sedikit saja yang memperhatikannya. Bahkan, kalaupun mendengar, ada yang menganggapnya sumbang. Baru sekaranglah, setelah bencana ekologi Sumatra, orang mengamininya. Ya, lebih baik terlambat daripada tidak.
PERLAWANAN YPDT
YPDT lahir pada 17 Agustus 1995 sebagai wujud keprihatinan sekelompok kaum terdidik melihat keadaan Danau Toba yang kian merana dari tahun tahun akibat eksploitasi alam yang sudah menjurus ke penggagahan atau pemerkosaan. Pelakunya terutama adalah PT Inti Indorayon Utama (IIU) yang beroperasi di Sosor Ladang, Porsea, sejak 1988. Sekarang perusahaan yang dimiliki taipan asal Belawan, Sumatra Utara, Tan Kang Hoo (Sukanto Tanoto) ini menggunakan nama PT Toba Pulp Lestari (TPL).
Prof. Dr. Midian Sirait, Ir. Sarwono Kusumaatmaja, Jend. TNI (Purn.) M. Panggabean, Mayjen TNI (Purn.) A.E. Manihuruk, Drs. Inget Sembiring, Mayjen TNI (Purn.) Haposan Silalahi, Letjen TNI (Purn.) Raja Inal Siregar, Dr. Ir. H. Akbar Tanjung, Drs. Christian Tumanggor, Brigjen TNI (Purn.) Marjans Saragih, Sarman Damanik, S.H., Mayjen TNI (Purn.) R.K. Sembiring Meliala, Jansen H. Sinamo, Dr. Master P. Tumanggor, Prof. Dr. Payaman Simanjuntak, Prof. Dr.-Ing K. Tunggul Sirait, dan beberapa tokoh nasional lain kalangan yang terusik dan kemudian tergerak unuk melawan korporasi perusak lingkungan kawasan Danau Toba.
Mereka lantas merancang haluan dan strategi perjuangan YPDT. Dalam rumusan yang dihasilkan, ditegaskan bahwa tujuan keberadaan organisasi ini adalah mengusahakan agar kawasan Danau Toba pada suatu saat dapat dinyatakan sebagai sebuah world heritage (warisan dunia) sehingga pelestarian dan pengembangannya menjadi perhatian masyarakat nasional dan internasional. Mengajak khalayak luas agar terlibat dalam pelestarian, itu mesti dilakukan. Disebutkan juga bahwa sasaran YPDT ada 3 yaitu: (1) Memelihara kuantitas air danau yang secara langsung ditentukan oleh kelestarian hutan-hutan di daerah tangkapan air (DTA) Danau Toba); (2) Menjaga kualitas air danau dengan mencegah segala macam polusi baik yang disebabkan oleh limbah manusia maupun industri (pertanian, restoran, hotel, pabrik, dsb.); dan (3) Mengusahakan agar masyarakat setempat menjadi pelaku aktif sehingga dapat diposisikan sebagai pemanfaat utama dari program-program pelestarian dan peningkatan mutu lingkungan Danau Toba).
Setelah para pendiri itu, kamilah—generasi yang lebih belia—yang menjalankan YPDT. Garis yang kami jalankan masih saja sama namun pendekatannya disesuaikan dengan semangat zaman. Yang dihadapi tetap sama yakni eksploitasi alam yang sudah menjurus ke penggagahan atau pemerkosaan. Pelakunya terutama adalah PT Inti Indorayon Utama (IIU) yang kelakuannya tetap sama kendati telah berganti nama menjadi PT Toba Pulp Lestari (TPL) serta tetap tak tersentuh (untouchable) meski rezim Orde Baru yang dulu sangat menopangnya sudah tumbang pada Mei 1998.
