TUTUP SELAMANYA TPL DAN PERUSAHAAN LAIN PERUSAK KAWASAN DANAU TOBA

Sepandai-pandai tupai meloncat akhirnya akan jatuh juga. Demikian bunyi pepatah lama. Begitu juga IIU—TPL. Bencana ekologi Sumatera sekarang telah menguak lebarlebar kebusukan yang bisa mereka tutupi berdekade-dekade. Juga, sekaligus menelanjangi kebrengsekan penguasa sekarang. Manfaatnya bagi rakyat banyak tak seberapa dibanding mudharatnya. Jadi, Toba Pulp Lestari yang pandai mengakali siapa saja sudah waktunya ditutup selamanya; bukan sementara. Kalau sementara itu akan mereka akali lagi. Jangan sekali-sekali lupa sejarah (Jasmerah), kata Bung Karno.

Sejarah akan kembali berulang. L’histoire serepete, kata orang Prancis. TPL akan ‘ngapusi’ [membohongi] publik lagi kalau hanya dihentikan sementara. Apalagi ingatan orang kita sungguh pendek dan bangsa kita asing terhadap tradisi tulisan pula. Tentu, TPL (dh Indorayon) bukan penyebab tunggal nestapa Danau Toba. Masih ada PT Aquafarm Nusantara—perusahaan keramba milik orang Swiss—yang kini telah mengenakan nama induknya, Regal Springs, tapi ditambah dengan kata ‘Indonesia’ di bagian akhirnya (menjadi Royal Springs Indonesia).

PT Suri Tani Pemuka (STP, merupakan anak usaha Japfa Comfeed Indonesia yang menernakkan ikan di Danau Toba; PT Allegrindo Nusantara (perusahaan ternak babi Desa urung Pane, Kecamatan Purba, Simalungun); dan yang lain masih saja berkegiatan seperti sediakala. Serupa halnya dengan para pelaku illegal logging yang beroperasi di banyak tempat di Sumatra Utara. Keadaan lebih parah lagi karena perusahaan tambang Dairi Prima Mineral beroperasi di Sopokomil, yang tak jauh dari Sidikalang. Food estate telah dibangun pula di kabupaten ini dan di Humbang Hasundutan.

Semuanya pastilah berdampak ke kelestarian alam kawasan Danau Toba. Demikian juga kegiatan PT Inalum. Korporasi ini yang sangat mengandalkan air Danau Toba yang sedang mengalir menuju samudra. Perusahaan plat merah ini masih beroperasi seperti biasa kendati permukaan air Danau Toba telah menyusut tak kurang dari 3 meter. Harus diingat bahwa air ini adalah bagian dari hak asasi, hak ekonomi, dan kehidupan penduduk setempat. Semua perusahaan perusak lingkungan ini juga harus segera dienyahkan dari kawasan Danau Toba. Untuk itu, semua kalangan yang mencintai kelestarian alam mesti bahumembahu; termasuk Gen Z dan angkatan yang lebih muda. YPDT sendiri sangat ingin bersekutu dengan mereka dalam
menjalankan misi pelestarian.

Hojot Marluga

Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

4 × 1 =